Lebih lanjut, Fadhlullah menyinggung tantangan ekonomi Aceh. Data BPS mencatat tingkat kemiskinan pada Maret 2025 berada di angka 12,33 persen, sedangkan tingkat pengangguran terbuka mencapai 4,76 persen.
“Angka ini jelas menjadi tantangan. Karena itu perlu inovasi dan kolaborasi agar pertumbuhan ekonomi lebih inklusif serta mampu menurunkan angka kemiskinan dan pengangguran,” ungkapnya.
Menurut Fadhlullah, penguatan pasar modal syariah dapat menjadi peluang untuk mendorong terciptanya lapangan kerja baru, meningkatkan akses permodalan bagi pelaku usaha, dan memperkuat basis ekonomi lokal berbasis nilai Islam.
“Dengan demikian, Aceh bukan hanya konsisten dalam penerapan syariat, tetapi juga menjadi contoh integrasi antara prinsip agama dengan kemajuan ekonomi modern,” tegasnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Syiah Kuala, Prof Dr Ir Marwan, menyampaikan bahwa rendahnya literasi keuangan menjadi salah satu faktor maraknya praktik merugikan seperti judi online dan investasi ilegal.
“Banyak masyarakat tergiur janji keuntungan besar tanpa memahami risiko, padahal Indonesia memiliki pasar modal yang sehat dan legal, termasuk pasar modal syariah yang sesuai dengan prinsip Islam,” jelasnya.
Menurut Marwan, tingkat literasi keuangan kalangan muda usia 18–25 tahun masih berada pada kisaran 32 persen. Angka tersebut menunjukkan perlunya edukasi yang lebih intensif.
“Kuliah umum hari ini menjadi momen penting untuk memberikan pemahaman, meningkatkan kewaspadaan, dan membangun pola pikir kritis generasi muda dalam pengambilan keputusan finansial,” tambahnya.






