Limbah Jadi Berkah: Strategi Mualem Dongkrak PAD Aceh, Akhiri Ketergantungan ke Sumut

BANDA ACEH – Di balik tumpukan jarum suntik dan kantong darah bekas pakai, Pemerintah Aceh melihat peluang emas.

Pagi ini, pukul 10.00 WIB di Ruang Potda 2 lantai 3 Setda Aceh, blueprint sentralisasi industri pengelolaan limbah medis B3 resmi dibuka.

Sebuah momentum bersejarah yang bukan sekadar agenda birokrasi, melainkan penanda lahirnya paradigma baru: dari limbah jadi berkah.

Pertemuan bertajuk “Investasi Industri Terkait Pengelolaan Limbah B3” itu dipimpin Plt. Asisten I Sekda Aceh Drs. Syakir, M.Si.

Hadir pula Penasehat Gubernur Bidang Investasi dan Hubungan Luar Negeri, T. Emi Syamsyumi alias Abu Salam, bersama jajaran SKPA terkait.

Keputusan strategis ini dinilai sebagai pengejawantahan visi Gubernur Aceh H. Muzakir Manaf (Mualem): Aceh Islami, Maju, Bermartabat, dan Berkelanjutan.

Data riset komprehensif membeberkan kenyataan mencengangkan: 68 rumah sakit di Aceh memproduksi limbah medis B3 rata-rata 2.244 kilogram per hari atau 819.060 kilogram per tahun.

Dengan tarif pengolahan Rp50 ribu per kilogram, potensi ekonomi yang tersimpan mencapai Rp40,9 miliar per tahun.

Angka ini setara dengan 0,168 persen dari total PAD Aceh tahun 2024 yang tercatat Rp24,3 triliun.

Artinya, sektor yang selama ini dianggap beban justru bisa menjadi salah satu lokomotif baru keuangan daerah.

Selama bertahun-tahun, limbah medis dari Aceh harus “berwisata” ke Medan bahkan Pulau Jawa untuk dimusnahkan.

Sebuah praktik ironi: uang rakyat Aceh justru memperkaya daerah lain. Biaya angkut diperkirakan mencapai Rp4,1 miliar per tahun. Dana yang seharusnya berputar di Aceh, malah mengalir keluar.

Pos terkait