Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, dalam sambutannya mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk terus menjaga stabilitas daerah. Ia menekankan bahwa pembangunan Aceh hanya dapat berjalan optimal apabila kedamaian tetap menjadi fondasi utama. Sambutannya sekaligus menandai dibukanya acara secara simbolis.
Acara peringatan ini dihadiri oleh para Duta Besar negara sahabat, unsur Forkopimda Aceh, tokoh adat, tokoh agama, akademisi, aktivis perdamaian, serta berbagai pihak yang selama ini berperan dalam proses dan pemeliharaan perdamaian Aceh.
Dalam kesempatan tersebut, Pangdam Iskandar Muda, Mayjen TNI Niko Fahrizal, menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi menjaga stabilitas keamanan dan keharmonisan di Aceh.
“Dua puluh tahun perjalanan damai ini merupakan bukti bahwa Aceh mampu bangkit, bersatu, dan membangun. TNI AD, khususnya Kodam Iskandar Muda, akan selalu berdiri di garda terdepan untuk menjaga keamanan dan mendukung pemerintah daerah dalam upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Pangdam IM.
Ia menambahkan, tantangan pembangunan ke depan semakin kompleks, sehingga diperlukan kerja sama erat antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat. “Kita harus memperkuat persatuan, menjauhkan perpecahan, dan mengutamakan musyawarah dalam menyelesaikan setiap perbedaan,” tambahnya.
Pangdam IM juga menuturkan pentingnya generasi muda memahami sejarah perdamaian Aceh agar nilai-nilai persaudaraan dan toleransi terus diwariskan. “Anak-anak kita harus mengerti bahwa perdamaian ini diraih dengan perjuangan, dan tugas mereka adalah merawatnya agar tidak pudar,” ucapnya.






