Taqwaddin: Perlu Evaluasi Strategi Pengelolaan Resiko Bencana

Dr Taqwaddin, menerima cendera mata usai memberikan materi pada Konferensi Nasional Pengelolaan Risiko Bencana berbasis Komunitas XVI 2024 di Hotel PMI Banda Aceh, Jumat (4/10/2024) • Foto Ist.

Ini bukti ketangguhan spritual warga Aceh yang perlu ditiru. Ujar Taqwaddin, yang juga mantan Kordinator Muhammadiyah untuk Penanggulangan Bencana (MDMC) Aceh.

Kedua, Strategi Ekonomi. Dalam strategi ini, Taqwaddin menguraikan, pentingnya pengembalian kemampuan ekonomi para korban bencana. Untuk memulihkan kondisi ekonomi korban bencana, pengalaman kami dulu membuat program cash for work, yaitu warga korban bencana digerakkan untuk bekerja membersihkan lahan pekarangan rumah mereka dan lalu sorenya diberikan uang, walaupun sebetulnya semua kebutuhan konsumsi mereka sudah dibantu oleh banyak donor.

Selanjutnya, selain program cash for work dan livelihood. Diperlukan juga program pelatihan kewirausahaan, persoalan, dan akses pemasaran terhadap hasil produk rumah tangga di daerah bencana.

Ketiga, strategi fisik. Pada strategi ini, diperlukan rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas publik dan bantuan rumah untuk korban bencana. Di beberapa area bencana yang tidak mungkin lagi untuk dijadikan sebagai pemukiman, maka harus dilakukan upaya relokasi semua warga masyarakat korban bencana ke area pemukiman baru seperti yang terjadi di Leupung dan di Neuheun Aceh Besar.

Dalam kaitan dengan kebencanaan, perlu juga ada penataan kembali pola tata ruang baru yang menyesuaikan dengan zonasi bencana.

Selain ketiga strategi di atas, Taqwaddin yang saat ini sebagai Ketua MPW Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Provinsi Aceh, juga menambahkan strategi keempat, yaitu diperlukan dukungan masyarakat luar untuk membantu warga masyarakat korban bencana. Masyarakat luar yang saya maksudkan adalah masyarakat luar daerah, masyarakat nasional dan internasional.

Hal lain yang juga sangat diperlukan untuk mempercepat rehabilitasi rekonstruksi pasca bencana adalah adanya dukungan pemerintah dengan segala regulasi dan kebijakannya.

Mengakhiri paparannya, dalam rangka memperingati 20 tahun bencana Tsunami Aceh, Taqwaddin menyarankan kepada akademisi dan aktivis kebencanaan untuk melakukan kajian evaluasi terhadap strategi-strategi yang telah dilakukan berdasarkan pengalaman di Aceh, sehingga diketahui strategi mana yang layak diikuti menjadi model dan mana yang tidak patut ditiru.

Pos terkait