Konon, kita di Aceh sebutnya maulid nabi bisa memakan waktu sampai 4 bulan lamanya. Sehingga momen tersebut, saya gunakan untuk berbisnis telur itek asin. Karena maulid nabi bukan hanya digelar di meunasah atau di masjid masjid, saja, bahkan disetiap rumah rumah warga maulid nabi dilaksanakan.
Untuk itu , ia menyebut produksi penjualan telur asin mencapai 3000 butir perhari, belum lagi termasuk para UMKM lainnya sebagai penghasil (penhual) telur asin.
“Itu baru saya, belum lagi kawan kawan seprofesi saya yang menjual / pemasar telur asin,” terangnya.
Sebenarnya, ia mengatakan jumlah yang dibutuhkan pangsa pasar cukup lumayan besar, namun karena masih minimnya peternak telur itek di Aceh sehingga kita harus membelinya di luar Aceh.
“Kalau saja ada sumber atau sentral penghasil telur itek (bebek) yang mencukupi di Aceh, saya pikir kita sudah aman lah. Namun hari ini kita kewalahan, bahkan di bulan maulid ini kita tidak bisa ambil dari Medan, tapi hanya bisa kita ambil dari pulau Jawa, Brebes. Kadang kawan kawan mengambilnya secara kolektif untuk dibagi bagi secara menyeluruh kepada reseller.
“Intinya, potensi yang ada diperbesar untuk bisa peternak bebek, sehingga lahan yang ada bisa digunakan sebagai pendapatan prekonomian keluarga dalam memenuhi kebutuhan hidup,” tutup E Ginting, bapak 2 orang anak yang menamatkan Sarjana (S1) di Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. []






