Hari ini kita hanya bisa menjadi penonton di lahan kita sendiri, sementara daerah lain di luar Aceh bisa memanfaatkan lahan yang ada dan menjadikannya sebagai penghasil untuk membangkitkan prekonomian keluarga dan daerahnya.
Termotivasi jadi Reseller Telur Asin
Awalnya, ketika dirinya hijrah ke Banda Aceh bersama isteri dan kedua anaknya. Waktu itu ia memiliki teman, bernama Ayah Cek di Aceh Besar.
Dia lah yang membangkitkan kembali saya untuk berusaha. Saya dikasih tempat untuk berusaha (ruko) sekaligus modal usaha, termasuk nama toko tempat saya berusaha yakni diberi nama Ayah Cek.
Motivasi saya berusaha dagang telur asin ini, melihat dari budaya orang Aceh yang doyan (tradisi) telur Asin. Dari 5 juta lebih penduduk Aceh secara keseluruhan tidak ada yang tidak kenal telur asin, dan tidak ada yang tidak suka telur asin.
Telur Asin begitu sangat teristimewa dan digemari di Aceh, dan merupakan salah satu makanan (lauk pokok) pemulia jame. Kalau ada satu kenduri, tanpa telur asin hidangan kuliner tersebut belum lengkap dirasakannya. Jadi telur asin merupakan salahsatu panganan (lauk) teristimewa di Aceh. Sebelumnya, saya termasuk pedagang semua jenis telur. Namun khusus di Aceh ini, saya ambil satu mata barang yakni telur itek.
Yang menarik di Aceh ini, sebutnya telur itek asin tidak dipangan secara utuh (bulat) tetapi harus dibelah, dan inilah sebuah keunikan yang menariknya terkait panganan telur asin di Aceh. Meskipun nanti kita memakannya secara utuh, namun harus tetap dibelah.






