Pengusaha Boh Itek Masen, E Ginting: Aceh Berpotensi Daerah Pengembangan Ternak Telur Itek

Pengusaha Boh Itek Masen Aceh (BIMA), Bapak E Ginting atau lebih dikenal dengan sebutan Ayah Cek, (kaos hitam) disela sela kesibukannya memproduksi Telur Itek Masen Aceh, Kamis (10/8/2023) | Dok Ist.

Dikatakan pak E Ginting, produksi yang dihasilkan bisa mencapai 3 ribu butir perhari. Lanjutnya, dengan jumlah sebesar itu, dia mengatakan jika para petani memiliki 500 ekor itek sudah bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarganya dengan suami isteri dan dua orang anak.

“Artinya, kalau 3000 butir yang diperlukan. Perhari, berarti petani itek bisa memelihara 3.000 atau 4000 ekor itek, plus 4 atau 5 orang tenaga pemelihara, otomatis kebutuhan keluarganya bisa terpenuhi dengan baik.

Adapun nilai jual perbutir telur itek asin yang dijual ke pedagang Rp3000 perbutir. “Kita menampung Rp2000 perbutir, kecuali hari hari besar Islam, seperti masuk bulan maulid, kita menampung Rp2.200 perbutir. Kita menjual ke grosir Rp2.800 perbutir.

“Pangsa pasar kita di pasar induk (sentral) yakni pasar Lambaro, dengan 10 hingga 15 reseller,” paparnya.

Harapannya kepada pemerintah khususnya dinas peternakan dapat memberdayakan para petani ternak terutama itek (petani telur) untuk dapat tersedianya bahan pokok baku (telur itek) di Aceh, tanpa harus pasokan dari luar Aceh.

“Karena bukan hanya saya yang membutuhkan, tetapi banyak lagi UMKM yang skala dengan saya, hingga 5 sampai 6 orang. Lalu, bisa dibayangkan jika 3000 butir perhari yang dibutuhkan dikalikan 5 orang saja, berarti 15.000 butir yang diperlukan perharinya.

Nah, hari ini kita melihat sumber bahan baku telur itek tersebut tidak ada di Aceh. Bahkan kita harus pasokan dari luar Aceh. Hal ini yang sangat kita sayangkan, sementara lahan yang ada di Aceh masih sangat luas dan bisa digunakan untuk menghasilkan pertenak telur itek.

Pos terkait