Aceh Masih Kental Dengan Tradisi Meugangnya

Pasar Keutapang Aceh Besar, dikerubuti pembeli, Senin (12/4/2021) photo ist

Dalam kehidupan Orang Aceh, pada Hari Meugang dan Bulan puasa seperti dilarang keras melakukan proses perceraian pasangan suami isteri.

Masih dalam suasana meugang seperti ini, nilai daging setumpuk lebih berharga daripada nilai sejuta uang. Artinya, jika anaknya tidak pulang untuk mencium tangan orang tuanya, namun hanya mengirim satu tentengan tumpukan dagingnya saja, maka anaknya itu dianggap melanggar adat dan melanggar adap sekaligus.

Begitu sakralnya ritual meugang di Aceh sudah terpatri dan mendarah daging dalam jiwanya secara turun temurun.

Era Aceh sebagai Negara Kerajaan Darussalam tempo doeloe, maka sang rajalah yang menalangi kebutuhan daging meugang.Kaum fakir miskin, orang sakit, cacat dan tunanetra, hanya menanti kiriman dari Daulat Tuwanku Raja.

Sayangnya penguasa dan orang kaya sekarang ini sudah tak berhati mulia menyantuni hamba laeh(tak mampu) seperti itu.

Kaum duafa sekarang ini terpaksa berjibaku mencari setumpuk daging meugang, jika tidak muncul “peperangan” di rumah.

Bagi pria Aceh jika tak mampu membawa pulang setumpuk daging walau harus berhutang ke sana ke mari untuk mendapatkannya, maka akan merasa hina dinalah dia di tengah kehidupan sosialnya.

Sebaliknya jika seorang pria berstatus penganten baru, bagi yang mampu harus menggotong kepala kerbau atau sapi sebagai persembahannya. (Adnan NS)

Pos terkait