Sebagai bagian kekentalannya, Orang Aceh menyebutnya: “Uroe got buleuen got, beumeutume pajoh leupek Mak peugot”Maksudnya pada suasana hari baik bulan baik seperti ini setiap orang harus bisa mencicipi makanan dan gulai khas hasil buatan tangan ibunya sendiri.
Andai dalam suasana menjelang Ramadhan seperti ini, terdapat anak, menantu dan cucu yang tidak pulang menyinggahi rumah orang tuanya, ini dianggap sudah tak beradat, walau statusnya sudah menjadi pejabat sekalipun.
Tak heran, pada masa suasana seperti ini warga Aceh di luar provinsi maupun di luar kabupaten Aceh berbondong-bondong menyamperin para orang tua di tanah kelahirannya.
Hari sakral ini diadatkan sebagai hari sungkeman menyongsong tibanya masa puasa satu bulan penuh.
Kita tahu, di republik ini hanya mengenal adanya tradisi mudik pada setiap menjelang Hari Raya Idul Fitri saja, namun berbeda sangat di Aceh. Musim mudiknya justeru berlangsung dua kali saban tahunnya, yakni menjelang puasa dan menjelang Idul Fitri. Kiranya, jika disensus pekan ini jumlah warga Aceh dipastikan bertambah.
Dalam suasana kebatinan seperti ini, puncaknya adalah meugang (makan daging) bersama sanak keluarga. Suasana ini memberikan simbul keakraban dan riang gembira dan saling bercanda. Anak, cucu dan menantu dilarang saling membentak dan mencaci maki.
Pada suasana ini, hewan seperti kucing dan anjingpun kebagian bongkahan daging. Tulang besar yang kurang bermanfaat diletakkan pada akar pohon sekitarnya sehingga menjadi santapan keong dan serangga.






