Aceh Masih Kental Dengan Tradisi Meugangnya

Pasar Keutapang Aceh Besar, dikerubuti pembeli, Senin (12/4/2021) photo ist

apjn.net, Aceh Besar – Lain lubuk lain ikannya, lain Padang lain pula belalangnya.

Sepenggal bait pantun ini mencerminkan, betapa antar suku bangsa di republik ini satu sama lainnya memiliki perbedaan suku bangsa, agama, bahasa, adat istiadat dan budaya serta tradisinya.

Atas dasar inilah mungkin pendahulu republik nusantara ini, memberi simbul “bhinneka tunggal ika”. Artinya bercerai berai penduduknya di banyak nusa, tapi bersatu dalam NKRI.

Bersatu dalam keberagaman entitas tapi bersatu di bawah payung berlambang burung garuda.

Apa yang menjadi tradisi tiga hari belakangan di Tanah Rencong Provinsi Aceh, sungguh beda amat dengan provinsi lain di nusantara ini.

Aktifitas warganya tiga hari belakangan sibuk dengan tradisi hari meugang (Uroe Makmeugang). Orang Sunda menyebutnya hari mungguhan (makan enak bersama di atas hamparan daun pisang).

Uroe Makmeugang bagi Orang Aceh boleh disebut hari khusus “pestapora santapan daging” secara besar-besaran. Tradisi ini seperti perhelaan ritual yang sangat mengental dan dianggap tradisi sakral dalam kehidupan sosial budaya warga provinsi bagian utara di ujung barat Nusantara ini.

Sakral artinya suatu tradisi seperti sangat bersahaja dalam pesta santapan daging multi rasa. Padahal kari Aceh resep nenek monyangnya ini, juga bagian daripada santapan populer keseharian warga di sini. Begitu pun, terkesan suasana hari meugang tak boleh terlewatkan setiap menjelang Bulan Suci Ramadhan tiba.

Suasana tiga hari menyambut bulan suci lagi mulia, bulan agung dan bulan yang penuh Rahmat selama sebulan penuh ini, ditamsilkan sebagai hari dan bulan terbaik di jagad raya alam semesta ini.

Pos terkait