“Sebagian sudah pada mengembangkan diri ke media digital, tetapi dominasi platform asing dalam mengambil belanja iklan ini telah menyulitkan media dalam negeri,” kata Presiden Jokowi.
Presiden Jokowi, juga meminta agar kedaulatan dan keamanan data dalam negeri juga harus menjadi perhatian bersama.
Selanjutnya, ia juga menyebut bahwa data adalah new oil, yang harganya tak terhingga, dan para penguasa data bukan hanya memahami dan kebiasaan prilaku masyarakat dengan memanfaat aguritme penguasa data dapat mengendalikan refrensi masyarakat.
Untuk itu dalam hal ini, kata presiden Jokowi, semua pihak harus hati-hati dan menjadi kewaspadaan bersama.
“Hati hati dan waspada mengenai hal tersebut,” pintanya.
Menurut presiden Jokowi, di tengah suasana seperti ini insan media harus utama, karena media mainstream justru sangat dibutuhkan untuk menjadi rumah penjernih informasi.
“Penting sekali menjadi clearing house of information dan menjadi informasi yang terverifikasi dan menjalankan peran sebagai communication hop yang memberikan harapan bagi semuanya,” katanya.
Presiden Jokowi mengingatkan bahwa peran utama media saat ini telah menjadi semakin penting untuk mengaplifikasi kebenaran dan menyingkap fakta terutama di tengah keganasan post truth pasca fakta dan kebenaran.
“Media utamanya harus mampu dan menjaga dan mempertahankan misinya untuk mencari kebenaran decing the truth dan optimisme,” jelasnya.
Oleh karena itu, ia minta semua pihak baik kepada lembaga pemerintah pusat dan daerah, BUMN dan swasta serta lembaga swadaya masyarakat untuk mendukung keberadaan media arus utama, yakni media mainstream.






