APJN.NET-BANDA ACEH– Sekretaris Jenderal Partai Naggroe Aceh (PNA) Miswar Fuady, SH, menilai wacana sistem proporsional tertutup akan menjadi langkah mundur dalam demokrasi di Indonesia
“Wacana Sistem proporsional tertutup merupakan sistem yang diterapkan selama Orde Baru, di mana anggota parlemen yang terpilih belum tentu yang dikehendaki rakyat yang diwakilinya,” ujar Miswar Fuadi Jumat, ( 6/1/2023)
Tambahnya, karena rakyat hanya memilih tanda gambar partai politik, dan siapa yang terpilih berdasarkan nomor urut yang ditentukan oleh partai politik.
Meskipun kata Sekjen PNA tersebut, sistem proporsional terbuka adanya kritikan terkait biaya politik tinggi karena persaingan antar calon di dalam partai politik. Bahkan, sambungnya lagi ada yang mengaitkannya dengan politik uang.
Namun, demikian katanya lagi bahwa politik uang tidak berasal dari sistem Pemilu tetapi justru pada budaya politik masyarakat dan elit politik itu sendiri.
“Soal bagi-bagi sembako menjelang Pemilu bukan hanya sekarang, memang sudah terjadi sejak masa Orde Baru yang menganut sistem proporsional tertutup,” ucapnya.
Lanjutnya, berpendapat bahwa Pemilu 2024 harus tetap menggunakan sistem proporsional terbuka dalam mencegah lahirnya oligarki partai politik, juga untuk menjaga seseorang terpilih yang mengakar ke rakyat, dan bukan yang dekat dengan pimpinan partai politik.
“Pemilu 2024 harus tetap menggunakan sistem proporsional terbuka, mencegah lahirnya oligarki partai politik, dan menjaga seseorang terpilih yang mengakar ke rakyat, bukan yang dekat dengan pimpinan partai politik,” ungkapnya.






