Mengenang Tsunami 18 Tahun Silam, Hidup Harus Terus Berjalan

Dok Ist

Wanita paruh baya itupun terus melanjutkan langkahnya. Bahkan perempuan hebat itu masih sanggup untuk mengulurkan tangan kepada mereka yang masih duduk tersungkur dengan kebisuan sambil berfikir, Apa yang telah terjadi pada Negeriku?

Dengan Lantang ia menjawab, “Sekarang bukan saatnya untuk melawan takdir Tuhan”. Beragam pertanyaan pun akan sia-sia karena sebagian dari kita telah tiada.

Saat ini yang dapat dilakukan adalah upaya untuk menemukan mayat dari anak anak kita, orang tua kita bahkan saudara saudara kita dari onggokan sisa lumpur dan reruntuhan puing puing yang berserakan serta terus melanjutkan perjalanan panjang ini. Tak akan adalagi peperangan.

Hidup harus terus berjalan, Melanjutkan cita-cita dengan sejuta kenangan, doa dan airmata. Mereka para syuhada akan selalu menjadi bagian dari kisah dan kenangan hingga akhir masa dengan Al Fatihah.

Setelah terjadi tsunami, banyak yang menyimpulkan semua orang Aceh mengalami stres permanen, sehingga hebohlah seluruh dunia. Sejumlah psikologi bermunculan bala bantuan dunia berdatangan untuk mengobati kondisi mental masyarakat di Aceh serta membangun kembali negeri ini.

Indonesia pada saat itu dinyatakan sebagai kawasan bencana tsunami terparah. Puncak gempa Aceh seolah olah membangunkan masyarakat dari mimpi buruk. Mimpi yang terus berkepanjangan dikarenakan konflik perang.

Demi mengenang kejadian itu, puncak Peringatan bencana tsunami Aceh selalu diperingati setiap tanggal 26 Desember di tiap tahunnya.

Refleksi dari musibah ini dimana seluruh kegiatan dihentikan pada hari terjadinya musibah tersebut. Yang ada hanyalah Doa dan Dzikir bersama mengenang bencana yang mengguratkan kisah pilu.

Pos terkait