Mengenang Tsunami 18 Tahun Silam, Hidup Harus Terus Berjalan

Dok Ist

Air laut naik ke permukaan sekitar 30 hingga 50 meter dan seketika saudara saudaraku, masyarakat serta warga kampungku turut berhamburan lari ketakutan dengan kecemasan.

Entah apa yang ada dalam benak mereka saat itu, Apakah Kiamat datang atau inikah perang yang sesungguhnya ? Hanya memilih dan berusaha untuk menyelamatkan diri saat diluluh lantakkan oleh kekuatan gempa yang dilanjutkan dengan terjangan hebat gelombang Tsunami yang mulai naik ke daratan sehingga untuk menentang ketinggian air laut yang begitu dahsyat pun mereka tak mampu.

Kotaku hancur, musnah dan berantakan hanyut bersama gagahnya gelombang Tsunami di Tahun 2004 silam.
Harta, tahta bahkan pangkat sekalipun tidak terhiraukan pada saat itu.
Ingin berteriak dan menangis histeris pada saat itu, namun untuk apa dan kepada siapa? yang ada hanyalah sisa puing serta ratusan jiwa dari onggokan mayat saudara saudaraku yang sudah tidak bernyawa terbawa oleh gelombang hebat Tsunami yang maha dahsyat.

Demi memohon Pertolongan dari Tuhan. Sayup sayup terdengar lantunan suara Adzan dari mulut ke mulut agar musibah ini dapat dihentikan dengan dan atas Kuasa Nya. Perlahan lahan gelombang hebat Tsunami mulai surut meski belum begitu cepat.

Ku lihat seorang perempuan paruh baya, terlihat kaku membisu menyaksikan peristiwa itu. Perlahan lahan ia mulai bisa berkomunikasi meskipun terbata bata di depan orang banyak.

Diantara kesedihan itu, ia menyelipkan sisa kekuatan dengan airmata.
Seraya berkata “Aku harus bisa menemukan mayat dari anak anakku”.
Seakan tak ingin merepotkan orang-orang di sekitarnya, ia pun berjalan tertatih tatih dari tempat perlindungannya di halaman teras bangunan megah yang kokoh dan menjadi saksi bisu atas hebatnya terjangan gelombang Tsunami yang telah melanda Acehku yaitu bangunan Mesjid Raya Baiturrahman yang memang terletak di Pusat Ibukota Banda Aceh.

Pos terkait