Oleh : Cut Silvia
APJN.NET, BANDA ACEH – Malam ini sekitar 18 tahun silam, Kami masyarakat Aceh kembali berdoa dan melaksanakan dzikir bersama diseluruh tempat dari surau ke surau serta mesjid ke mesjid khususnya bagi daerah yang terdampak tsunami. Kisah sedih yang menyiratkan kenangan akan orang- orang tersayang kembali terlintas dalam ingatan.
Konflik berkepanjangan yang selama itu menghantui dan melukai banyak korban, seolah olah terkalahkan oleh teguran Tuhan.
Hari itu, desau tiupan angin yang begitu lirih seakan ingin menyampaikan sesuatu yang amat hening bahkan begitu tenang pada setiap insan. Banyak yang terbuai dalam akhir pekan yang menurut mereka sangat menyenangkan.
Sebagian orang ada yang menghabiskan waktu libur dengan melakukan berbagai kegiatan hobinya, salah satunya seperti berolahraga, bermain di pantai bahkan sebagian dari mereka masih ada yang terlelap di peraduan.
Menyaksikan kemolekan wajah asri Banda Aceh di tengah konflik peperangan seraya berharap, kapan semua ini akan usai.
Akankah Aceh ku yang terletak di wilayah Ujung Barat Indonesia dengan khazanah religi akan merasakan udara ketenangan seperti yang dirasakan oleh saudara-saudaraku di provinsi lainnya? Hanya harap sembari melihat beberapa kesibukan pagi ini oleh masyarakat yang diiringi riuh renyah canda tawa dari bocah bocah yang sangat menikmati akhir pekan itu.
Namun seketika, musibah datang tanpa salam sapa bahkan tanpa dugaan, tiba tiba meluluh lantakkan Kotaku.
Gempa Maha dahsyat yang terjadi pada Hari Minggu, Pukul 07.59 Wib dengan magnitudo 9,3 SR menghancurkan bangunan di atas Serambi Mekkahku.






