APJN.NET| JAKARTA, Pakar Hukum Tata Negara, Yusril Ihza Mahendra, mengatakan bahwa sebenarnya tidak begitu rela dalam hatinya pemilihan presiden dilakukan secara langsung, yakni one person one vote, seperti sekarang ini.
Hal tersebut disampaikan dalam wawancara, pada sebuah laman tiktok “Total Politik” dikutip Media ini, media lalu.
“Dalam hati saya sebenarnya tidak begitu rela pemilihan presiden dilakukan dengan one person one vote, seperti sekarang ini,” kata Yusril.
Dikatakan Yusril kita mau demokrasi kok. Demokrasi itu hanya bisa berjalan kalau tingkat pendidikan masyarakatnya sudah lebih tinggi.
“Bagaimana kita mau merasakan demokrasi langsung dengan 60 persen lebih penduduknya berpendidikan SD dan atau setingkat SD dengan tingkat pendapatan perkapita cuma sekian,” ucap Yusril.
Menurutnya, dengan kemajemukan yang luar biasa ini sulit memang untuk menerapkan demokrasi langsung.
Dikatakannya, kerusakan demokrasi sekarang ini bukan lagi hanya pada level elit tapi sampai ke bawah.
Lanjutnya, dalam pemilu ya, kita itu berkampanye menjelaskan ideologi perjuangan partai dengan segala macam penjelasan, ya sia sia.
Walaupun, katanya kita bina satu desa, kita bikinkan semuanya itu agar bisa maju, tapi sia sia aja.
“Yang paling penting itu, besok nyoblos saya kasih anda uang berapa, dan itu yang terjadi sekarang ini,” jelasnya.
Menurutnya, kerusakan demokrasi sudah sampai level masyarakat yang paling bawah. Kalau kita bicara etika di situ kita bicaranya bukan sekarang ini, bicara di MK MK pada tingkatan putusan MK MK, atau putusan DKPP.
“Itu sebenarnya, adalah code of conduct sebenarnya, bukan bicara etika sebagai sebuah bangsa yang menurut saya itu betul betul harus dibenahi bangsa ini,” pungkasnya. (*)






